Tumbangnya rezim Taliban di Afganistan oleh pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat menghadirkan kembali kehidupan yang ”normal” di negara itu. Pers yang hilang dari Afganistan, sejak tahun 2002, muncul kembali menjadi bagian keseharian kehidupan masyarakat.
Najiba Ayubi, 50 tahun, adalah salah satu dari beberapa jurnalis yang merintis kehadiran pers kembali di bumi Afganistan. Melalui ”konglomerat” media Killid Grup, Najiba terlibat dalam penerbitan majalah Mursal, majalah pertama khusus untuk perempuan di Afganistan, yang terbit 8 Maret 2003.
Dia juga kemudian ikut mendirikan empat stasiun radio, yaitu Radio Killid Herat (RKH), Radio Killid Jalalabad (RKJ), Radio Killid Mazar el-Sharif (RKM), dan Radio Killid Kandahar (RKK).
”Bekerja untuk media massa di Afganistan tidak mudah. Kami banyak mendapatkan ancaman dari para panglima perang pada masa-masa awal. Tetapi, kami bisa bertahan. Kini kami punya kebebasan lebih besar,” ungkap Najiba yang memilih tetap hidup melajang.
Dia ingat betul ketika salah satu stasiun radionya menyiarkan berita yang menyebut salah satu panglima perang.
”Panglima perang yang kami sebutkan namanya itu kemudian datang bersama pasukannya. Mereka semua membawa senjata api. Dia menanyakan mengapa kami menyiarkan berita itu? Mengapa kami menyebut nama dia? Saya beradu argumentasi langsung dengan dia, sementara hati rasanya ’panas-dingin’. Tentu saya khawatir kalau-kalau ucapan saya salah, karena mereka semua membawa senjata. Untunglah saya bisa mencairkan kemarahan dia dan kami pun aman,” paparnya.


Beberapa waktu berkutat pada dunia gizi dan farmakologi, walhasilnya jadi ketagihan buat mendalaminya. Tidak bisa dipungikiri lagi gaya hidup sehat sudah menjadi kebutuhan. Melihat banyak buku kesehatan yang memaparkan berbagai perbedaan pola makan antara Barat dan Timur membuat pikiran saya menyetuhui bahwa say no to sugar adalah salah satu kampanye yang tepat buat membangun personal brandingku. Mulai dari pesan kemaslahatan di QOTD(untuk kalangan sendiri), sudah 3 hari saya menyuarakan kampanye ini. Hitung-hitung selain berbagi pesan kemaslahatan yang seharusnya disampaikan, juga sebagai sarana brand image dari salah satu tagline Boogie Wonderland. Hasilnya, tunggu dan gali lebih jauh update artikel ke depan tentang pesan-pesan tersebut
Wow! Leann Rimes has really come into her own. Her latest song “What I Cannot Change” shows the depth and maturity of her voice with rich and delicate reflections on life. Her voice is as tender as the lyrics are profound.
Beberapa akhir-akhir ini saya jadi tertarik mengikuti perkembangan isu politik, terutama tentang referensi pemilu 2009. Dari hobi baru ini dalam otak saya tiba-tiba muncul banyak sekali unek-unek dan argument yang kepingin disampaikan kepada “mereka”. Pasalnya, banyak peristiwa yang bisa dikatakan mengocok perut.Tapi perut tak berdaya terkocok.




