Proses dokumentasi terlebih melalui tulisan adalah sebuah upaya merekam sejarah. Kata intelektual kebanyakan di dunia dengan merekam apapun memoar yang kita alami sedikitnya lewat tulisan adalah bentuk pembangunan peradapan baru. Lantas apa hubungannya dengan artikel yang akan anda baca sesaat lagi?
Hubungannya tentunya baik-baik saja. Namun seperti yang sudah saya katakan kalau dokumentasi adalah proses pembuatan sejarah, maka dari itu saya tidak mau melewatkan sejarah pribadi saya. Dari coretan ini suatu saat mungkin kalau saya(maupun sodara saya Boogie) jadi orang trknal, praktis stiaknya mrka bisa tahu porfolio saya. Hahaha
Sebelumnya bagi yang belum kenal, saya adalah mahasiswa di suatu universitas baru namanya M*****G. Katanya sih bakalan jadi besar di kemudian hari. Tapi sedikitpun saya tak pernah terkesima dengan label tersebut
Pasalnya yang dapat membuktikan besar nantinya adalah kualitas peserta didiknya dalam hal ini mahasiswanya. Bagi saya dedikasi untuk membangun peradaban baru tanpa banyak berkompromi dengan sistem maupun company branding adalah yang terpenting. Bukan hanya sebagai jalan pencapaian karya semata namun di sisi lain, institusi di mana saya berada pun justru nantinya layak dan dapat dibuktikan kebesaran. Sudah sekarang langsung masuk ke tahap mana yang akan jadi sejarah saya.
Tepat satu bulan yang moment yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tanpa sepengetahuan banyak pihak , akhirnya saya mengikui juga kompetisi simulasi bisnis se Jatim. Wah bagai kejatuhan duren, sudah lama ditunggu, tak tahunya tahun ini ada yang diadakan di Malang. Kompetisi yang lebih terkenal dengan nama simbis ini sebenarnya di Indonesia beberapa tahun yang lalu sempat jadi salah satu ajang bergengsi bagi siswa dalam mengerahkan segala strateginya dalam pengambilan keputusan bisnis yang meliputi keputusan harga, jumlah produk, besarnya biaya pemasaran, serta biaya R&D suatu produk yang di simulasikan dalam satu persaingan industri sejenis.
Sejak SMA kelas satu kebetulan saya ikut dalam student company yang dibina langsung oleh PJI(Prestasi Junior Indonesia). Wadah inilah yang mempertemukan saya dengan kompetisis ini serta sedikit banyak mindset dunia bisnis. Tahun 2005 yang kebetulan digelar simbis Internasional, saya juga mengikutinya. Tapi posisi saya masih sebagi pelajar SMA tingkat pertama. Walhasil, di putaran pertama pun MPInya karut-marut gak karuan.
Gayung bersambut, tahun berikutnya ada lagi. Nah dengan sedikit telah menguasai teori dasarnya, akhirnya saya ikut lagi. Kali ini lebih memacu adrenalin karena praktis walau mekanismenya tim tapi saya bisa maju di 2 teratas dengan usaha sendiri. Tapi mungkin benar kalau anak muda terlalu mudah terbawa emosional, waktu penetapan keputusan periode terakhir kenapa saya bisa kebalik masukkan angka keputusan. Padahal kalu tak kebalik, sudah dipastikan lolos babak kedua.
Ternyata ilmu ikhlas itu perlu. Ya tak apalah obsesi saya belum tercapai. Namun setidaknya saya memperoleh banyak hal. Bagaimana tidak?bahkan notabenenya dalam kurikulum pelajaran(kebetulan saya jurusan sosial)teori untuk memenangkan simbis tak diajarkan. Jadi aneh kalau masa itu yang seharusnya saya belajar untuk persiapan UAN malah belajar literatur bisnis tingkat perguruan tinggi. Ya namanya Boogie, bukan boogie namanya kalau tak berani meyakini idealnya.
Penantian tetaplah penantian. Tahun berikutnya ternyata simbis tak diadakan lagi. Namun PJI melalui rekanannya kadang kala menagadakan dalam tingkat lokal. Unutk tingkat Jatim yang di adakan universitas A*******a pun saya ikut dan mentok-mentoknya masuk top 10. Pada penghujung akhir tahun 2007 harapan bisa ikut kategori mahasiswa muncul. Tapi tak adapun institusi yang mengadakan.
Baru bulan lalu PJI di universitas B*******a mengadakan untuk tingkat Jatim. Sayangnya promosi mereka kurang meriah, sehingga tak banyak yang tahu. Untungnya mentor bisnis saya yang ada di sana aktif memberikan info simbis di manapun akan diselenggarakan. Akhirnya dengan bekal persiapan kurang lebih 2 tahun saya ikut bersaing dengan 64 tim lainnya dari seluruh Jatim. Kagetnya, sudah lama tak update ternyata kali ini PJI menngunakan software simbis baru Titan yang lebih canggih. Produk yang menjadi simulasi dalam persainag industri pun tak lagi Ecopen(waktu masih dengan software MESE )-keduanya tetap sama pengembangan dari Harvard Business School, namun berupa generator compatible yang dapat berfungsi sebagi dtaa base segala kebutuhan.
Kompetisi ini diformat dalam 7 periode selama 1 minggu. Bagi nilai company index teratas tiap grup industri berhak bersaing dalam putaran kedua. Alhamdulilah perusahaan saya dapat index tersatas juga sehingga berkesempatan bertarung di periode final.
Hal yang mengejutkan terjadi waktu babak final. Dari 8 finalis tersebut ternyata pesaing dari universitas C*****a yang tak pernah diduga juga lolos. Bahkan mereka lolos dengan 2 wakil tim sekaligus. Bagaimana tidak jatuh mental ini ketika sempat diunggulkan oleh panitia(mungkin karena saya satu-satunya yang berpengalaman dengan kompetisi serupa). Namun yang namanya kompetisi harus berjalan profeional. Dalam periode awal-awal index perusahaan saya selalu dalam posisi 2 teratas. Namun entah kesalahn apa yang saya perbuat sehingga pada periode kelima production cost saya belum turun signifikan denagn tim lainnya. Padahal 2 tim pesaing utama(yang saya sebutkan di atas)pada periode awal berada dalam posisi kuda hitam.
Dag dig dug kencang adrenalin ini melewati deadline keputusan periode 6 dan 7 yang merupakan periode puncak. Keringat dingin berjatuhan dengan kalkulator tak pernah lepas dari tangan. Oh keputusan harga berapa yang harus ditetapkan; jumlah inventori masih banyak; suply was excess –begitulah komentar software. Wah ternyata situasi yang emosional tak membantuku secara strategis. Dalam kondisi seperti itu hanyalah lagu dari penyanyi countri kesayangan, LeAnn Rimes yang cocok untukku.
I probably wouldn’t be this way
I probably wouldn’t hurt so bad
I never pictured every minute without you in it
Sometimes I see you standing there
Sometimes it’s like I’m losing touch
Sometimes I feel that I’m so lucky to have had the chance to love this much
God gave me a moment’s grace
‘Cause if I’d never seen your face
I probably wouldn’t be this way
***
You ought to see the way these people look at me
when they see me ’round here talking to this stone
Everybody thinks I’ve lost my mind
But I just take it day by day
Sepenggal lirik tersebut yang teringat dan paling mewakili posisi saya. Akhirnya harus direlakan bahwa index perusahaan saya jatuh tajam pada peride puncak. Dan bisa ditebak dengan jelas, mereka dua-duanya naik tajam dan memborong semua peringkat. Padahal secara teori saya tahu betul strategi apa yang harus digunakan untuk menang kompetisi ini. Namun kalau Tuhan belum berkehendak, apa boleh buat?
Mungkin benar kata salah satu kawan bahwa Dia mungkin tak memberi apa yang kita inginkan, tapi memberi pa yang kita butuhkan. Toh masih ada kesempatan lain kali. Pikiran positifku berkata, mungkin dengan beberapa pengalaman gagal yang saya alami justru suatu saatnya nanti saya lebih siap untuk mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya.
Tetap dalam dedikasi,
Ekak K. Hardianto






September 7, 2008 pukul 2:07 pm
wiii Mas Ekak mboyzzz yah!!!!!!!!! gak taw aq t’nyata Mas uda b’pengalaman skali dalam soal kompetisi bisnis bgini….waaaa salud banged!!!
juara 3 ntuh uda lumayan buanged luh Mas…mboyzz banged ioh…gak selayaknya disesali…gak smua orang bisa mencapai apa yang sampeyan capai ituwh…wuaaa ngiri aquwh!!! huhuhu…
bener Mas, makin banyak kegagalan, makin besar kemungkinan kesuksesan yang akan kita capai. ada yang bilang…katana akumulasi kekecewaan saat gagal ituwh bisa memperkuat motivasi biar bisa lebi sukses. moga2 abiz ni juara lagi yah Mas! AMinnnn!!!
btw katana Loh Ami sampeyan lagi sakid toh?? ceped sembuh ez ya…moga2 bsok sek isa dateng MCJC, hehe
p.s. Bikin komunitas blogger Ma Chung yuk??
November 21, 2008 pukul 9:46 pm
wUiicchh,,
gmna siCh mas straTegix spya bisa uNgguL d simbiS ???
tahun 2007 kmren Quw ikuT mas d tingkat LokaL,,
trUzzz aLhmduLLiLLah Q dPet jUara 1..
taPi wktU d tingkaT prOv se kaLtim Q tUrun pEringkat mas jd juara 2,,
tiPsx dOnk mas ???
hehehe
November 22, 2008 pukul 8:42 am
salam kenal, kamu dari mana?
sebenarnya intinya cuma satu strategi kita harus konsisten. Aku hanya yakin dg itu. walau belum pernah dapat juara 1 tapi aku seolah tahu kalo untuk sukses di simbis harus punya sense meraba strategi lawan. ini yg susah. klo aku nembaknya sih di gedein kapasitas pabrik. Tp ini juga bisa disusul dg pesaing lain ketika mereka punya posisi efisien di biaya produksinya.
ya trus belajar, dan belajar semoga insting kita terlatih.
kapan2 klo ada lagi semoga kita bisa saling ketemu.
Tetap dalam dedikasi!