Memiliki kegemaran baru ngeblog ternyata banyak hal yang dapat saya dapatkan. Mulai dari menjajal sebagai blog surfer sampai harus pelototin komputer seharian. Sebetulnya ada banayk unek-unek yang kalau bisa setiap muncul saya tulis di blog ini. Apa daya energi tak mendukung harus mobile 24 jam nonstop. Namun setidaknya sekarang, saya jadi punya profesi baru sebagai perekam sejarah(halah!). Bagaimana tidak? Kalau tiap jam, menit, detik, saya tak bisa lepas dari gaman kesayangan yaitu notes coklat klasik. Rasanya sungguh disayangkan jika saya melewatkan apa yang terlintas di otak ini tanapa ada yang merekam. Menyadari kemapuan otak saya untuk mengingat sanagt minim. Namun karena ide adalah anugrah dari Tuhan, maka rasanya saya berkewajiban untuk mengabadikannya. Harapannya kelak, andai telah tutup usia namun konsep-konsep tersebut belum terealisasikan, akan ada orang yang menemukan prasasti dokumentasi sejarah saya dan melakukan pembabatan konsep tadi.(halah lagi!)
Sekarang kembali ke topik utama. Waktu membaca majalah Intisari pada bagian Mutiara Kata, saya tertarik dengan kalimat yang berbunyi bahwa lebih tiga perempat hidup manusia digunakan untuk meniru orang lain. Kalimat tersebut langsung menohok hati. Namun setelah melakukan seminar dalam hati dengan berbagai bentuk negoisasi pikiran, akhirnya saya menyimpulkan bahwa pendapat itu mungkin benar. Namun kenapa juga saya harus terjebak dalam dikotomi tersebut. Memang benar jangan pernah anggap enteng diri sendiri. Jadi, tak perlu meniru atau bergantung kepada orang lain.
Itulah ideal yang pertama. Lantas, bagaimana bisa kita menutup mata terhadap sisi orang lain yang dapat dijadikan kebaikan kita sendiri. Jadi, meniru asalkan caranya cantik sih masih sah-sah saja. Nah kalau dalam hal ini, kiblat saya banyak dipengaruhi oleh pak Romy SW. Bolehlah say bangga mengatakan “pak, nyatanya saya bukan seperti mahasiswa yang sering bapak analogikan dalam sesi-sesi bapak. Setelah keluar dari sesi bapak, saya langsung mempraktikkannya”. Walhasil sekarang anda sedang menbaca blog Boogie Wonderland.
Sebagai bentuk dari pengejawantahan hal yang baik. Jadi teringat pesan pak Boediono yang sagat menyejukkan hati. Intinya beliau mengatakan bahwa penyampaian pesan moral secara formal sebenarnya tak pernah menjadi perhatian mahasiswa. Dalam forum saja, mungkin tampaknya aksi ataupun orasi pembicara didukung habis-habisan. Namun setelah keluar forum, kembali menjadi makhluk primitif lagi yang sseolah-olah tak bisa mengerti apapun.
Berkaitan tentang hal itu, nanti akan saya bahas dalam artikel khusus tentang tranformasi konsep secara efektif. Namun tidak sekarang. Singkat kata, penyampaian pesan yang efektif bisa dilakukan secara informal dengan informal leadership juga. Jadi lewat tulisan ini juga saya menyampaikan gagasan-gagasan baik secara informala agar setidaknya ada yang tergugah hatinya dan berhenti bicara, namun bertindak otokritis pada dirinya sendiri.
Menurut saya dalam kesempatan ini, gagasan pak Romy yang layaknya wajib saya duplikasikan, distribusikan, suarakan, atau apalah sebutannya. Beliau menyuarakan tentang hakikat dosen dan pendidik yang harusnya merasa punya beban untuk menjadikan mahasiswa sebagai agen perubahan peradaban baru bangsa ke arah lebih baik.
Menurut beliau mengajar mahasiswa mengandung makna besar mendidik dan membina generasi muda kita. Dalam sejarah kebangkitan bangsa-bangsa, peran mahasiswa selalu tercatat, menjadi garda depan perubahan, kontribusinya sangat besar dan dominan. Mahasiswa adalah anasirut taghyir alias agen perubahan yang akan mewarnai masa depan dan membentuk karakter suatu bangsa.
Bayangkan, pendidikan dan pembinaan orang-orang seperti itu diserahkan pada para dosen dan pendidik. Beban berat yang harus mereka pikul dan perlu perdjoeangan untuk melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.
Menurut studi kecil-kecilan yang beliau lakukan, tentang harapan mahasiswa kepada dosennya. Dosen seperti apa yang sebenarnya mereka harapkan. Cukup menakjubkan, bahwa mahasiswa sangat jujur menilai dosennya. Kalau disimpulkan ada empat karakteristik dosen yang diharapkan mahasiswa, dan jujur saja akan mereformasi dan mengantarkan kita menjadi sosok Dosen 2.0
1. Memiliki Kemampuan Verbal: Pintar jangan untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Bahasa gampangnya, permintaan mahasiswa kepada kita supaya belajar untuk mengajar, dan bukan hanya belajar untuk diri kita sendiri. Dosen diharapkan punya keseimbangan dalam pengetahuan taksit (know-how dan pengalaman lapangan) dan pengetahuan eksplisit (tertulis di textbook dengan berbagai teoritikalnya). Beri mahasiswa lebih banyak pengetahuan taksit karena know-how dan pengalaman lapangan yang kita miliki akan membuka wawasan mereka lebih luas. Memanjang-lebarkan penjelasan ke bahasan yang sudah jelas bin cetho tertulis di buku akan membuat kuliah jadi kering, garing dan membosankan. Kebiasaan dalam menggunakan bahasa sulit dalam menjelaskan suatu hal juga dikritik, ditambah dengan nafsu untuk memasukkan semua materi kuliah ke slide presentasi. Jangan buat kacamata semakin tebal, itu harapan para mahasiswa. Mari gunakan bahasa manusia yang baik dan benar, dosen datang untuk memahamkan ke mahasiswa, bukan untuk menambah pusing mahasiswa yang sudah pusing dengan tugas mandiri, UTS dan UAS
2. Memiliki Kemampuan Tulis: Kritikan paling tajam adalah kebiasaan dosen menggunakan bahasa tulis ala paper yang dingin dan formal. Ngeblog adalah terapi yang sangat efektif mengatasi kelemahan kita yang tidak terbiasa menggunakan bahasa manusia dalam menulis. Posting artikel populer dalam bentuk journal pribadi yang banyak menggunakan ungkapan hati ala blog, akan mereformasi gaya tulisan kita. Menulislah dengan hati, karena kekuatan kata-kata kita akan memberikan motivasi tinggi kepada para mahasiswa dan mahasiswi. Jangan pernah nyontek tulisan orang lain karena itu akan blunder, membuat generalisasi negative image ke semua perilaku kita. Apalagi kalau menerapkan standard ganda dengan membuat tidak lulus mahasiswa yang melakukan copy-paste pada laporan tugas mandirinya. Kegiatan copy-paste mahasiswa kadang harus disikapi dengan bijak, mungkin mereka belum kita ajarkan tentang peraturan APA masalah pengambilan referensi dan pembuatan kutipan. Justru copy-paste yang dilakukan dosen dan pendidik adalah penghianatan besar, membuat damage yang sangat luas ke lingkungan dan kegiatan hina yang tidak termaafkan.
3. Open Mind dan Karakter Berbagi: Terbuka, jujur dan mau menerima kritik adalah sifat penting yang diharapkan mahasiswa ke dosennya. Karakter ringan tangan, senang berbagi ilmu dan project, mau bergaul dengan mahasiswa dan bahkan mendekati mereka dengan “bahasa mereka” adalah sifat yang menentramkan mahasiswa. Mahasiswa, selain sebagai murid, juga adalah teman, partner dan customer dari sang dosen. Janganlah dosen bersifat terlalu jaim, jayus apalagi jablai, karena itu akan membuat mahasiswa makin tidak simpatik. Kalau sudah nggak simpatik, sebaik apapun ilmu pengetahuan dan nasehat yang diberikan akan hancur, musnah dan mahasiswa akan main hati (romi and the backbone) Mari menjaga hati mereka dan memberikan janji suci (romi and nuno) kepada para mahasiswa, “wahai para mahasiswaku, senyummu juga sedihmu, adalah hidupku“. Kalau perlu sebutkan dengan ikhlas, “akulah penjagamu, akulah pelindungmu, akulah pendampingmu, di setiap langkah-langkahmu (romi maulana, gigi)“. Dijamin mahasiswa pasti klepek-klepek dan mengatakan “everything i do, i do it for you sir …” Kadang mengikuti behavior mereka dengan membuat account friendster dan facebook juga bukan pilihan buruk. Meminta mereka membuat laporan dalam bentuk tulisan lewat fitur blog di friendster kadang bisa dilakukan untuk men-terapi mahasiswa-mahasiswa yang sudah sulit dikendalikan lewat cara konvensional
4. Memiliki Kemampuan Teknis: Cukup mengejutkan bahwa technical skill ternyata bukan hal utama yang diharapkan oleh mahasiswa ke dosennya. Sudah menjadi hal yang jamak bahwa kemampuan teknis khususnya yang berhubungan dengan pengetahuan eksplisit, sebenarnya bisa didapat dari berbagai literatur, buku dan ebook yang didapat dengan mudah oleh mahasiswa lewat internet. Dosen diharapkan oleh mahasiswa untuk jujur, kalau memang nggak ngerti ya bilang saja nggak ngerti, jangan malah muter-muter dan bikin pusing mahasiswa. Contohnya saja pada jurusan computing, mahasiwa kadang punya technical skill yang lebih tinggi daripada dosen, misalnya berhubungan dengan programming, troubleshoting, dan trend teknologi. Berkata tidak tahu, adalah suatu hal yang biasa dalam iklim pendidikan di kampus. Mengungkapkan akan mencoba mempelajari masalah itu dan dijadikan bahan diskusi pertemuan pekan depan, adalah jawaban dosen pejuang yang jujur dan bertanggungjawab. Sekali lagi, dosen nggak perlu keminter atau merasa lebih pinter dari pada mahasiswanya untuk urusan skill teknis. Karakter dosen yang merasa menjadi newbie forever, selalu perlu belajar dan belajar lagi, selalu berjuang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, dan berusaha keras menyelesaikan masalah mahasiswanya, adalah karakter wajib, dan sifatnya tidak hanya wajib kifayah, tapi wajib ain.
Untuk para dosen, sekali lagi, anak-anak muda, para pembaharu dan penentu masa depan bangsa ada di depan kita. Kitalah yang menentukan apakah mereka akan menjadi seorang pemimpin besar, mujaddid besar, dan ilmuwan besar, yang akan memperbaiki republik ini. Dan jangan lupa, bahwa kalian jugalah yang akan membuat mereka menjadi penjahat dan koruptor besar yang akan memporak porandakan republik ini. Pilihan ada di tangan kalian, para dosen.
Untuk para mahasiswa, beri mereka kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki diri. Insya Allah mereka akan berusaha menjadi pembimbing dan pendidik yang baik untuk anda sekalian. Mereka tidak menginginkan apapun dari kita semua, selain harapan supaya mahasiswa tetap komitmen untuk belajar dan berjuang keras, serta pantang menyerah. Hentikanlah sikap main-main, selalu jaga karakter serius dan profesional dalam kegiatan berhubungan dengan tugas belajar. Bersikaplah seperti layaknya seorang ksatria dan agen perubahan, yang akan mengantarkan republik ini ke jalan yang lebih baik.
Sumber pesan: modifikasi dari http://romisatriawahono.net/2008/08/25/wahai-dosen-berbicaralah-dengan-bahasa-manusia/






September 2, 2008 pukul 8:31 pm
keren kak… suara mahasiswa… hahahaha…
November 3, 2008 pukul 12:40 pm
Yooo, setuju, Kak!
Dosen jaim en sok pinter tuh nyatanya ya masih ada, tapi di Ma Chung kayaknya nggak ada. Dosen punya FS, FB atau blog? Kenapa tidak? Jaman sekarang malah agak aneh kalau seorang dosen tidak punyaatau setidaknya tidak tahu akan sarana networking seperti itu.
Patris (konon juga dosen di Ma Chung)
November 3, 2008 pukul 3:37 pm
iya, klo bisa para dosen pendekatannya lebih mengarah pada apa yang digemari mahasiswa sekarang. misalnnya ngumpulin tugas lewat FS. Dengan begitu mahasiswa melakukan tugas tanpa terpaksa.
tapi perlu diingat juga bahwa keduanya harus saling interaktif
tetap dalam dedikasi
November 26, 2008 pukul 5:42 pm
lecturer is a singer and an architect ^,,^