Perkenalkan, namanya KM (1)
Ketika melihat, mendengar dan merasakan, ada benang merah yang ternyata dapat kita tarik. Ketiga aktivitas tersebut merupakan pengolahan minimal pancaindera inti manusia. Nah trus apa hubungannya dengan tulisan yang akan anda sedang baca sekarang. Setidaknya tulisan ini adalah sinergi dari panca indera saya antara peraba yang diwakili oleh jari saat mengetik, penglihatan yang diwakilkan oleh mata saat harus membuka beberapa referensi dan coretan ide saya dalam notes hitam kesayangan, serta pendengaran yang diwakilkan oleh telinga saat menulis. Kebetulan saja saat ini tak melibatkan sama sekali indera terakhir itu. Namun tetap saja gosip tetangga sebelah bisa jadi termasuk salah satu inspirasi tulisan ini. Nah. Kemudian saya menyebutkan sinergi indera tersebut sebagai indera baru yang saya beri nama indera personal branding (
gaya klasik muncul lagi). Semoga indera yang sedang berkenalan dengan anda sekarang ini cukup dapat menghipnotis anda selama kurang lebih llima menit ke depan. JIka belum, jangan khawatir, mumpung saya lagi baik karena lagi kesengsem dengan bahasan kali ini maka akan ada sekuelnya di beberapa postingan ke depan.
Aku Telah Hidup 200 Tahun
Akhirnya saya dapat juga merasakan hidup lebih 200 tahun. Kalau pak Romi pernah bilang dia telah hidup 600 tahun memang wajar. Beliau jam terbangnya bukan lagi sekelas Hayden Christensen dalam film Jumper tapi mungkin yang lebih tepat sudah seperti Wolverine yang tak diketahui berapa usianya. Ya, saya berhasil membuktikan sebuah tips agar dapat hidup lebih 200 tahun. 200 tahun dulu lah, nanti jika ada kesempatan lagi saya akan tambah umur saya lebih 1000 tahun lagi. Saya bahkan juga bisa berpindah lokasi secara cepat layaknya jagoan pada film The Jumper. Anda benar. Saya juga dapat memainkan waktu sesuka saya untuk dapat menjadi peran yang berbeda di belahan dunia apapun yang saya mau.
Baru saja saya ikut mengantar kedatangan Ayatollah Khomeini dari pengasingannya di Paris kembali ke negerinya Iran. Saya juga turut menyaksikan revolusi Iran tahun 1979 bersamaan juga diusirnya Reza Pahlevi di kerajaan Iran. Ayatollah Khomeini yang saat itu ikut andil besar dalam revolusi Iran adalah figure yang membebaskan orde hedonisme pemerintahan Pahlevi yang didukung oleh Amerika. Begitu jelas juga saya menyaksikan Iran berubah menjadi satu-satunya Negara arab yang menjadi Republik Islam dari sebelumnya yang menganut sistem monarki. Saya juga berada di samping Mahmod Ahmadinejad ketika ia menjadi seorang wali kota Teheran yang tiap jam 9 malam selalu berpatroli sendiri melihat apakah kotanya sudah aman. begitu pun tahun 2005 ketika ia menjadi kandidat tak terduga calon presiden Iran mengalahkan Rafsanjani kala itu. (lagi…)
The World is Flat (versi renungan)
Ketika akhirnya resmi bergabung dalam tim pengembang website universitas Ma Chung, mata saya dibukakan akan satu hal yang tak pernah terpikirkan selama ini. ternyata informasi dan komunikasi sekarang ini telah berada pada tataran paling menentukan dalam kehidupan manusia. Terlepas dari apapun struktur negaranya, kompetensi itu tidak boleh tidak harus dimiliki jika ingin tetap eksis di dunia ini
Kenapa saya akhir-akhir ini jadi getol dengan apa yang namanya image branding di dunia maya padahal saya bukan orang teknologi, saya hanya manusia fana yang lugu di jalan para dedikator
serta mulai sedikit-sedikit mempelajari web 2.0 tidak lain karena beberapa jargon di dunia IT seolah telah memcumbu jiwa ekonomi manajemen saya. Jadi saya mengimani bahwa benar bahwa era dunia datar telah tiba. Sense of branding & marketing ini berpadu dengan daya pikat web 2.0 membuat seolah bagai sepasang kekasih yang mendapatkan restu untuk segera melangsungkan sebuah ikatan suci. Begitulah analogi yang saat ini kurasakan.
Kiat Menjadi Mahasiswa Lugu yang Sukses
Saya terkadang cukup heran dengan apa yang dilakukan oleh teman-teman sejawat di kampus. Mereka uitu bisa mikir apa ndak ya. Dikatakan pinter karena IPK nya diatas 3 tapi kok kelakuanya kaya anak bayi. Bagaimana tidak. Hidup yang mereka lalui seakan banyak yang disia-siakan.dikatakan bodoh rasanya kok gak manusiawi. Nayatanya kalau dalam urusan silat lidah, pasti ada aja alas an yang bisa dijadikan tameng mereka menagpa melakukan itu semuanya. Saya cuma berpikir apakah mereka gak merasa rugi hanya melakukan aktivitas itu-itu aja, tanpa variasi, datang lalu pulang, belajar buku kuliah dapat nilai A. hadir rapat BEM yang bahasannya pun gak pasti selesai dalam waktu itu aja. Saya melihatnya kok itu bukan kategori para dedikator yang berjalan di rel dedikasi ala republik dedikasi(halah
Cara taktis dengan Web 2.0
Sepotong kepala nyengir. Wajahnya nongol di berbagai televisi. Dia mendongak, melempar senyum kemenangan. Senyumannya adalah sejarah baru Amerika Serikat. Ya, Barack Obama, kandidat dari Partai Demokrat. Pertanyaannya, mengapa si anak Menteng itu menang? Bukankah dalam sejarah Amerika selama ini kursi presiden selalu dimenangi oleh politikus yang kenyang asam-garam, bukan politikus kencur seperti Obama. Ada yan bilang bahwa dia menang karena duit kampanyenya bombastis, hamper tiga kali lipat kampanye McCain. Ada yang bilanglagi karena Obama adalah orang yang pintar dapat merangkul anak muda dari generasi X dan Y yang notabenenya dalam pemilu AS belakangan terakhir kenanyakan merupakan kominitas golput. Namun justru karena ini mungkin dia menang. Dia tahu pasti membuat persobal branding yang sangat taktis.
Selamat jalan Meutia, selamat jalan kekasih khayalanku!
Aku menangisi kepergianmu. Pasalnya akan jarang lagi kusaksikan wajah ayumu di balik kaca. Lantas siapakah yang akan menemaniku minum segelas kopi tanpa gula (SAY NO TO SUGAR mode on) setiap petang jam 6 sore. Wah selasa malamku laksana berada di kuburan tak mendengar polahmu menyerang orang lain.
Itulah sepenggal kisah yang kurasakan saat ini. Iya, benar. Aku sedang kehilangan sosok yang berharga bagiku. Sosok wanita idaman. Sosok kekasih khayalan bagi Boogie Wonderland (versi lamaku). Sosok dedikator bagi Banyu Biru (versi baruku). Sosok pendamping dikala sore dan malam hariku.
Eits…tapi tunggu dulu. Ini bukan masalah cinta-cintaan. Bukan pula masalah pacar-pacaran. Cinta bagiku masih terlalu jauh untuk dibahas dalam sebuah blog dedikasi ini. Pacar pun antah berantah ada di benakku. Mereka semuanya hanyalah penghambat dedikasi ini. Maka, wahai para dedikatorku, jangan kau kejar cintamu, tapi biarlah cinta yang mengejar dirimu. Seruan ini adalah sebuah seruan lugu dari sang mahasiswa yang hanya mengenal tulisan sebagai media penebar kemaslahatan (halah)
Membuka Keterbukaan (Universitas) dengan Regalitas Web
Perubahan era di dunia sekarang telah beralih dari era industri menuju era informasi. Itulah yang menjadi topik saya dalam pengantar sebuah esai untuk salah satu portfolio untuk web development universitas. Judul aslinya sih adalah “Regalitas Media Online dalam Keterbukaan Perguruan Tinggi”. Namun terkesan ilmiah maka judulnya saya sesuaikan bagi para dedikator sekalian.
Membuat sebuah portfolio web development sendiri bukanlah tujuan utama, namun memaparkan apa yang seharusnya yang dilakukan oleh subjek yang saya tulis di sini adalah hal utama yang saya tendang. Jika harus dikatakan bahwa dunia ini memang memasuki era informasi, maka tidak bisa tidak, tebar kemaslahatan lewat jejaring ini sangat penting. Sebagai mahasiswa lugu, saya pun sebenarnya sedikit sekali mempunyai kapasitas dalam tebar-tebaran itu. Namun untuk mengawalinya, maka inilah bentuk yang hanya bisa saya lakukan untuk memperbesar kapasitas tebar-tebaran itu. Mungkin juga sudah saatnya jurnalisme online harus go public sehingga bukan hanya sekedar tiras yang didapat tapi traffic tinggi yang tentunya punya nilai kemaslahatan.
Nah sekarang langsung pada materi. Perubahan telah membawa suasana baru pada bentuk media massa. Hal ini juga didukung oleh lahirnya teknologi baru yang berbentuk jaringan jagat raya internet. Dari internet inilah lahir alternatif media baru yaitu media online. (lagi…)

My Recent Comments