Aku menangisi kepergianmu. Pasalnya akan jarang lagi kusaksikan wajah ayumu di balik kaca. Lantas siapakah yang akan menemaniku minum segelas kopi tanpa gula (SAY NO TO SUGAR mode on) setiap petang jam 6 sore. Wah selasa malamku laksana berada di kuburan tak mendengar polahmu menyerang orang lain.
Itulah sepenggal kisah yang kurasakan saat ini. Iya, benar. Aku sedang kehilangan sosok yang berharga bagiku. Sosok wanita idaman. Sosok kekasih khayalan bagi Boogie Wonderland (versi lamaku). Sosok dedikator bagi Banyu Biru (versi baruku). Sosok pendamping dikala sore dan malam hariku.
Eits…tapi tunggu dulu. Ini bukan masalah cinta-cintaan. Bukan pula masalah pacar-pacaran. Cinta bagiku masih terlalu jauh untuk dibahas dalam sebuah blog dedikasi ini. Pacar pun antah berantah ada di benakku. Mereka semuanya hanyalah penghambat dedikasi ini. Maka, wahai para dedikatorku, jangan kau kejar cintamu, tapi biarlah cinta yang mengejar dirimu. Seruan ini adalah sebuah seruan lugu dari sang mahasiswa yang hanya mengenal tulisan sebagai media penebar kemaslahatan (halah)
Sosok wanita yang hilang itu adalah Meutia Hafid. Sosok kakak, guru yang sekaligus sebagai TV anchor kesayanganku. Aku kehilangan dia pada petang hari pukul 6 dalam acara “MHI” (Metro Hari Ini), selasa malamku juga terasa sepi saat dia tak nampak lagi membawakan acara “Today’s Dialog” di Metro TV. Hafid akan jarang muncul lagi di balik kaca pembungkus deretan perangkat elektronik di ruangan rumahku.
Terhitung tanggal 10 Oktober yang lalu dia resmi menyatakan perpisahannya di dunia pers karena ia maju menjadi caleg urutan nomor 2 partai Golkar untuk daerah Sumut. Jadi caleg secara tidak langsung berarti harus nonaktif dari profesi jurnalis. Mendengar keputusannya itu aku sempat kecewa. Bagaimana bisa kuterima kenyataan bahwa sosok Hafid yang kujadikan mashab dalam berintelektual ini memutuskan masuk dalam sistem. Masuk ke dalam sistem dan dunia baru yang biasanya menjadi sorotan tajamnya semasa di dunia pers. Kekagumanku sempat sirna kepadanya. Padahal sesuai apa yang ia katakan dalam bukunya “168 jam dalam sandera” bahwa profesi jurnalis adalah puncak dari profesi yang melibatkan seluruh intelektualitas, masuk ke lingkungan baru, nalar berpikir, serta bertemu dengan orang-orang berpengaruh. Namun mengapa sekarang justru dia masuk ke dunia dimana intelektualitas mungkin tidak bisa dengan fleksibelnya dilontarkan. Nalar pun terkadang akan menjadi boomerang di saat mayoritas lingkungan dunia kita adalah kumpulan orang2 berpikir jongkong, puritan dan kaku, saran serta gagasan cantik yang tak punya jalan yang mulus agar bisa sampai pada kota tujuannya
Namun aku akhirnya merenungi sejenak keputusanmu itu. Memang suatu saat kita harus ambil resiko dengan berani melawan prinsip. Kalaupun itu cara yang terbaik untuk merubah ataupun menyuarakan yang kita idealkan. Tapi aku masih belum sepenuhnya yakin bahwa keputusanmu masuk sistem adalah keputusan yang terbaik. Tapi dilema juga sih. Dilemma di saat kita sebagai seorang yang tahu banyak tentang sebuah idealitas, harusnya dapat memberikan dampak dan perubahan. Dilemma selanjutnya adalah saat apa yang kita putuskan ketika masuk sistem sendiri tidak menjadi senjata yang cukup tajam dalam melukai kebobrokan sistem sebagus apapun pengetahuan kita.
Aku tahu dirimu. Kaulah sang dedikator sejati. Aku tahu betul arah pandangmu. Kau seorang visioner. Aku pun yakin keputusan masuk caleg pun bukan sebagai cara batu loncatanmu. Tapi aku masih ragu dan khawatir dalam dunia barumu. Namun aku akan selalu mendukung segala pergerakanmu. Aku yakin bahwa kau dapat melanjutkan dedikasi dalam bentuk barumu.
Dedikasi para dedikator belum selesai. Kami semua akan tetap melanjutkannya. Aku pun berharap dan berdoa agar kau benar2 menjadi perubah tradisi. Kalaupun harus keluar dari tradisi lama untuk membuat tradisi baru (di dalam sistem) yang baik tentunya, maka kau patut disandingkan dengan wanita hebat asal Korea, Jang Geum. Kutunggu selalu karyamu karena kutahu kau bukan orang yang merasa nyaman bisa tertidur pulas tanpa sedetik pun berkarya. Aku bisa melihatnya saat kau berada dalam sandera. Analytical berpikirmu masih saja bergumam dengan jelas.
Aku akan tetap belajar bagaimana meneruskan dedikasi ini dalam dunia datar. Semangat jurnalistikmu dalam mewarnai kehidupan telah mendorongku berkonsentrasi pada personal branding ini. Akhirnya, selamat jalan Meutia Hafid. Selamat jalan sang kekasih khayalan. Selamat jalan sang dedikator. Sampai jumpa lagi di dunia para dedikator, dunia di mana dedikasi tak mengenal berhenti membuat sebuah karya.
Tetap dalam dedikasi,
Ekak K. Hardianto






November 17, 2008 pukul 5:30 pm
owalah..
November 25, 2008 pukul 5:18 pm
Mmm, good one. IN English we call this “an ode to Meutia Hafid”.
Visioner, cerdas, berwawasan, wanita, . . . mmm, lethal combination. A well-deserved ode, Ekak. Mmmmm ….
Patrisius
November 26, 2008 pukul 5:29 pm
iyo wes….
pokoke Meutia.
masuk sistem? tanya aja knp dia masuk..
beres toh…
hehehhe…
ojo sinis2 ma org sistem toh…
aq merasa tertohok..
wkwkwkwkwk
November 27, 2008 pukul 4:37 pm
Sepertinya wanita bernama M(e)utia memang selalu indah ya…baik inner maupun outernya,,,
hahaha….
Piss…^^V
Desember 2, 2008 pukul 12:27 pm
mutia hafidz…..
seorang sosok journalis yg cerdas…
apakah tetap secemerlang bila duduk di anggota dewan lagi..
kukungan kekuasaan membuat saya takut dia akan terbawa
penyakit anggota dewan…
Januari 11, 2009 pukul 11:10 pm
well, life is full of choices,, sometimes others dont get why we choose that specific option
Februari 5, 2009 pukul 9:02 pm
sama aku juga merasa sangat kehilangan kekasih hayalan ku….. semoga suskses
Februari 19, 2009 pukul 2:10 pm
i like her toooooooo
April 11, 2009 pukul 10:49 pm
waw..
aku juga menyayangkan,
orang yang berpola pikir sebagus itu kenapa harus masuk lingkungan politis (sebagai legislatif tentunya)..
ahh..entahlah..