Kiat Menjadi Mahasiswa Lugu yang Sukses

studentSaya terkadang cukup heran dengan apa yang dilakukan oleh teman-teman sejawat di kampus. Mereka uitu bisa mikir apa ndak ya. Dikatakan pinter karena IPK nya diatas 3 tapi kok kelakuanya kaya anak bayi. Bagaimana tidak. Hidup yang mereka lalui seakan banyak yang disia-siakan.dikatakan bodoh rasanya kok gak manusiawi. Nayatanya kalau dalam urusan silat lidah, pasti ada aja alas an yang bisa dijadikan tameng mereka menagpa melakukan itu semuanya. Saya cuma berpikir apakah mereka gak merasa rugi hanya melakukan aktivitas itu-itu aja, tanpa variasi, datang lalu pulang, belajar buku kuliah dapat nilai A. hadir rapat BEM yang bahasannya pun gak pasti selesai dalam waktu itu aja. Saya melihatnya kok itu bukan kategori para dedikator yang berjalan di rel dedikasi ala republik dedikasi(halah :)

Baca entri selengkapnya »

Najiba Ayubi, Menghidupkan Pers Afganistan

Tumbangnya rezim Taliban di Afganistan oleh pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat menghadirkan kembali kehidupan yang ”normal” di negara itu. Pers yang hilang dari Afganistan, sejak tahun 2002, muncul kembali menjadi bagian keseharian kehidupan masyarakat.

Najiba Ayubi, 50 tahun, adalah salah satu dari beberapa jurnalis yang merintis kehadiran pers kembali di bumi Afganistan. Melalui ”konglomerat” media Killid Grup, Najiba terlibat dalam penerbitan majalah Mursal, majalah pertama khusus untuk perempuan di Afganistan, yang terbit 8 Maret 2003.

Dia juga kemudian ikut mendirikan empat stasiun radio, yaitu Radio Killid Herat (RKH), Radio Killid Jalalabad (RKJ), Radio Killid Mazar el-Sharif (RKM), dan Radio Killid Kandahar (RKK).

”Bekerja untuk media massa di Afganistan tidak mudah. Kami banyak mendapatkan ancaman dari para panglima perang pada masa-masa awal. Tetapi, kami bisa bertahan. Kini kami punya kebebasan lebih besar,” ungkap Najiba yang memilih tetap hidup melajang.

Dia ingat betul ketika salah satu stasiun radionya menyiarkan berita yang menyebut salah satu panglima perang.

”Panglima perang yang kami sebutkan namanya itu kemudian datang bersama pasukannya. Mereka semua membawa senjata api. Dia menanyakan mengapa kami menyiarkan berita itu? Mengapa kami menyebut nama dia? Saya beradu argumentasi langsung dengan dia, sementara hati rasanya ’panas-dingin’. Tentu saya khawatir kalau-kalau ucapan saya salah, karena mereka semua membawa senjata. Untunglah saya bisa mencairkan kemarahan dia dan kami pun aman,” paparnya.

Baca entri selengkapnya »

Wahai Dosen, Berbicaralah dengan Bahasa Manusia!(versi Ekak)

Memiliki kegemaran baru ngeblog ternyata banyak hal yang dapat saya dapatkan. Mulai dari menjajal sebagai blog surfer sampai harus pelototin komputer seharian. Sebetulnya ada banayk unek-unek yang kalau bisa setiap muncul saya tulis di blog ini. Apa daya energi tak mendukung harus mobile 24 jam nonstop. Namun setidaknya sekarang, saya jadi punya profesi baru sebagai perekam sejarah(halah!). Bagaimana tidak? Kalau tiap jam, menit, detik, saya tak bisa lepas dari gaman kesayangan yaitu notes coklat klasik. Rasanya sungguh disayangkan jika saya melewatkan apa yang terlintas di otak ini tanapa ada yang merekam. Menyadari kemapuan otak saya untuk mengingat sanagt minim. Namun karena ide adalah anugrah dari Tuhan, maka rasanya saya berkewajiban untuk mengabadikannya. Harapannya kelak, andai telah tutup usia namun konsep-konsep tersebut belum terealisasikan, akan ada orang yang menemukan prasasti dokumentasi sejarah saya dan melakukan pembabatan konsep tadi.(halah lagi!)

Sekarang kembali ke topik utama. Waktu membaca majalah Intisari pada bagian Mutiara Kata, saya tertarik dengan kalimat yang berbunyi bahwa lebih tiga perempat hidup manusia digunakan untuk meniru orang lain. Kalimat tersebut langsung menohok hati. Namun setelah melakukan seminar dalam hati dengan berbagai bentuk negoisasi pikiran, akhirnya saya menyimpulkan bahwa pendapat itu mungkin benar. Namun kenapa juga saya harus terjebak dalam dikotomi tersebut. Memang benar jangan pernah anggap enteng diri sendiri. Jadi, tak perlu meniru atau bergantung kepada orang lain.

Baca entri selengkapnya »

Selamat Jalan Pemimpin Tua

Kompas, kamis, 08 november 2007

Selamat jalan pemimpin tua

M fadjroel rachman

The sunset generation! Mereka adalah generasi pertama kepemimpinan nasional pascareformasi. Hampir 10 tahun terakhir (1998-2007) mereka malang melintang di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, serta segala bidang politik dan nonpolitik. Di bidang politik nasional dan lokal, kita mengenal susilo bambang yudhoyono (58), jusuf kalla (65), bj habibie (71), megawati soekarnoputri (60), abdurrahman wahid (67), amien rais (63), akbar tandjung (62), wiranto (60), sutiyoso (63), sri sultan hamengku buwono x (61), dan pemimpin segenerasinya.

Artinya, Baca entri selengkapnya »