Cara Lugu Menyikapi Gap Antara IPK Tinggi dan IPK Unggul

family-guy-fightMenyikapi gap antara akademisi dan industri sebelumnya adalah hal yang perlu dikaji untuk mengetahui apakah pentingnya “pendidikan”. Gap tersebut pada intinya merupakan masalah turun-temurun yang belum begitu nyata pemecahan dan solusinya. Masalahnya antara akademisi dan industry selalu berkaitan dalam hal dasar pendidikan. Ya, pendidikan yang merupakan investasi terbesar untuk menemkan satu pemecahan masalah itu sendiri.

Nah, apa yang terjadi selanjutnya adalah gap tersebut lebih mengarah lebih sempit lagi kepada gap yang berada di dunia pendidikan sendiri khususnya pendidikan tingggi.
Bila dilihat dari kapasitas yang dibutuhkan dunia manapun adalah SDM yang unggul, mereka yang mempunyai perbedaan dari kebanyakan manusia lainnya. Itulah mengapa yang namanya pemimpin sangat sedikit. Oleh Karena itu dalam dunia pendidikan ada sebuah benchmark atau tolak ukur untuk mengukur tingkat kapasitas pendidikan seseorang. Baca entri selengkapnya »

Kiat Menjadi Mahasiswa Lugu yang Sukses

studentSaya terkadang cukup heran dengan apa yang dilakukan oleh teman-teman sejawat di kampus. Mereka uitu bisa mikir apa ndak ya. Dikatakan pinter karena IPK nya diatas 3 tapi kok kelakuanya kaya anak bayi. Bagaimana tidak. Hidup yang mereka lalui seakan banyak yang disia-siakan.dikatakan bodoh rasanya kok gak manusiawi. Nayatanya kalau dalam urusan silat lidah, pasti ada aja alas an yang bisa dijadikan tameng mereka menagpa melakukan itu semuanya. Saya cuma berpikir apakah mereka gak merasa rugi hanya melakukan aktivitas itu-itu aja, tanpa variasi, datang lalu pulang, belajar buku kuliah dapat nilai A. hadir rapat BEM yang bahasannya pun gak pasti selesai dalam waktu itu aja. Saya melihatnya kok itu bukan kategori para dedikator yang berjalan di rel dedikasi ala republik dedikasi(halah :)

Baca entri selengkapnya »

Membuka Keterbukaan (Universitas) dengan Regalitas Web

Perubahan era di dunia sekarang telah beralih dari era industri menuju era informasi. Itulah yang menjadi topik saya dalam pengantar sebuah esai untuk salah satu portfolio untuk web development universitas. Judul aslinya sih adalah “Regalitas Media Online dalam Keterbukaan Perguruan Tinggi”. Namun terkesan ilmiah maka judulnya saya sesuaikan bagi para dedikator sekalian.

Membuat sebuah portfolio web development sendiri bukanlah tujuan utama, namun memaparkan apa yang seharusnya yang dilakukan oleh subjek yang saya tulis di sini adalah hal utama yang saya tendang. Jika harus dikatakan bahwa dunia ini memang memasuki era informasi, maka tidak bisa tidak, tebar kemaslahatan lewat jejaring ini sangat penting. Sebagai mahasiswa lugu, saya pun sebenarnya sedikit sekali mempunyai kapasitas dalam tebar-tebaran itu. Namun untuk mengawalinya, maka inilah bentuk yang hanya bisa saya lakukan untuk memperbesar kapasitas tebar-tebaran itu. Mungkin juga sudah saatnya jurnalisme online harus go public sehingga bukan hanya sekedar tiras yang didapat tapi traffic tinggi yang tentunya punya nilai kemaslahatan.

Nah sekarang langsung pada materi. Perubahan telah membawa suasana baru pada bentuk media massa. Hal ini juga didukung oleh lahirnya teknologi baru yang berbentuk jaringan jagat raya internet. Dari internet inilah lahir alternatif media baru yaitu media online. Baca entri selengkapnya »

Dedikasi ala Mahasiswa “Lugu” di Era Dunia Datar

Dedikasi mahasiswa di era dunia datar adalah tema yang saya angkat, ketika menjadi keynote speaker(halah):) dalam talkshow peringatan sumpah pemuda “Kontribusi Mahasiswa dalam Pembangunan Nasional”  di universitas Ma Chung pada tanggal 29 Oktober 2008. Acara tersebut merupakan salah satu rangkaian acara dari mata kuliah Character Building and Development Center  3 (CDBD 3). Mata kuliah itu adalah salah satu mata kuliah kepribadian yang wajib diikuti setiap mahasiswa universitas Ma Chung. Dalam CBDC 3 kali ini merupakan alternatif dari mata kuliah kewarganegaraan yang biasa ada di universitas lain. Namun prosesnya dilakukan secara terintegrasi oleh semua mahasiswa, dosen, dan staf dalam bentuk seminar, kuliah tamu maupun diskusi panel.

Ketika itu kebetulan harus menyajikan diskursus tentang kontribusi mahasiswa bagi pembangunan nasional. Karena saya merasa belum cukup berkontribusi nyata terhadap bangsa, ya makanya saya pilih judul di atas (tanpa kata “lugu” pastinya). Yang lugu mungkin cara saya sendiri dalam menyampikan diskursus itu. hahaha

Maklum saya bukan orator ulung seperti Budiman Sujatmiko. Saya hanya terinspirasi dari apa yang disaimpaikan pak Romi SW ketika menyuarakan arah pergerakan mahasiswa yang seharusnya-mahasiswa 2.0. makanya dengan judul lugu dalam talkshow tersebut saya berkeyakinan bahwa mahasiswa harus bisa berinisiatif membuka wacana di depan publik, walaupun terkesan bahasanya bahasa dewa. Tapi tak apa, dengan begitu akan hadir versi bahasa manusianya:). Baca entri selengkapnya »

Wahai Dosen, Berbicaralah dengan Bahasa Manusia!(versi Ekak)

Memiliki kegemaran baru ngeblog ternyata banyak hal yang dapat saya dapatkan. Mulai dari menjajal sebagai blog surfer sampai harus pelototin komputer seharian. Sebetulnya ada banayk unek-unek yang kalau bisa setiap muncul saya tulis di blog ini. Apa daya energi tak mendukung harus mobile 24 jam nonstop. Namun setidaknya sekarang, saya jadi punya profesi baru sebagai perekam sejarah(halah!). Bagaimana tidak? Kalau tiap jam, menit, detik, saya tak bisa lepas dari gaman kesayangan yaitu notes coklat klasik. Rasanya sungguh disayangkan jika saya melewatkan apa yang terlintas di otak ini tanapa ada yang merekam. Menyadari kemapuan otak saya untuk mengingat sanagt minim. Namun karena ide adalah anugrah dari Tuhan, maka rasanya saya berkewajiban untuk mengabadikannya. Harapannya kelak, andai telah tutup usia namun konsep-konsep tersebut belum terealisasikan, akan ada orang yang menemukan prasasti dokumentasi sejarah saya dan melakukan pembabatan konsep tadi.(halah lagi!)

Sekarang kembali ke topik utama. Waktu membaca majalah Intisari pada bagian Mutiara Kata, saya tertarik dengan kalimat yang berbunyi bahwa lebih tiga perempat hidup manusia digunakan untuk meniru orang lain. Kalimat tersebut langsung menohok hati. Namun setelah melakukan seminar dalam hati dengan berbagai bentuk negoisasi pikiran, akhirnya saya menyimpulkan bahwa pendapat itu mungkin benar. Namun kenapa juga saya harus terjebak dalam dikotomi tersebut. Memang benar jangan pernah anggap enteng diri sendiri. Jadi, tak perlu meniru atau bergantung kepada orang lain.

Baca entri selengkapnya »

Nekrofilia Pendidikan

Kian merebaknya kekerasan di sekolah merupakan sebuah realitas sosial yang memprihatinkan. Sekolah atau universitas yang dipandang rahim, tempat berseminya benih-benih transformasi sosial, ternyata telah melahirkan aneka tindak kekerasan.

Mengapa model “pembinaan” senior kepada yunior (seperti yang terjadi di IPDN) ataupun perekrutan geng-geng pelajar dan aneka bentuk bullying lainnya justru hadir di tengah aneka usaha pembaruan pendidikan?

Mobilitas vertikal

Model pendidikan di tidak sedikit jajahan Perancis di Afrika sangat kolonialis. Model pendidikan asing diterapkan tanpa penyesuaian berarti. Memang ada upaya asimilasi demi memberi warna lokal penggunaan folklor dan cara-cara eksotis. Namun, Baca entri selengkapnya »