Cara taktis dengan Web 2.0

small_obama_imageSepotong kepala nyengir. Wajahnya nongol di berbagai televisi. Dia mendongak, melempar senyum kemenangan. Senyumannya adalah sejarah baru Amerika Serikat. Ya, Barack Obama, kandidat dari Partai Demokrat. Pertanyaannya,  mengapa si anak Menteng itu menang? Bukankah dalam sejarah Amerika selama ini kursi presiden selalu dimenangi oleh politikus yang kenyang asam-garam, bukan politikus kencur seperti Obama. Ada yan bilang bahwa dia menang karena duit kampanyenya bombastis, hamper tiga kali lipat kampanye McCain. Ada yang bilanglagi karena Obama adalah orang yang pintar dapat merangkul anak muda dari generasi X dan Y yang notabenenya dalam pemilu AS belakangan terakhir kenanyakan merupakan kominitas golput. Namun justru karena ini mungkin dia menang. Dia tahu pasti membuat persobal branding yang sangat taktis.

Baca entri selengkapnya »

Selamat jalan Meutia, selamat jalan kekasih khayalanku!

meutia2Aku menangisi kepergianmu. Pasalnya akan jarang lagi kusaksikan wajah ayumu di balik kaca. Lantas siapakah yang akan menemaniku minum segelas kopi tanpa gula (SAY NO TO SUGAR mode on) setiap petang jam 6 sore. Wah selasa malamku laksana berada di kuburan tak mendengar polahmu menyerang orang lain.

Itulah sepenggal kisah yang kurasakan saat ini. Iya, benar. Aku sedang kehilangan sosok yang berharga bagiku. Sosok wanita idaman. Sosok kekasih khayalan bagi Boogie Wonderland (versi lamaku). Sosok dedikator bagi Banyu Biru (versi baruku). Sosok pendamping dikala sore dan malam hariku.  

Eits…tapi tunggu dulu. Ini bukan masalah cinta-cintaan. Bukan pula masalah pacar-pacaran. Cinta bagiku masih terlalu jauh untuk dibahas dalam sebuah blog dedikasi ini. Pacar pun antah berantah ada di benakku. Mereka semuanya hanyalah penghambat dedikasi ini. Maka, wahai para dedikatorku, jangan kau kejar cintamu, tapi biarlah cinta yang mengejar dirimu. Seruan ini adalah sebuah seruan lugu dari sang mahasiswa yang hanya mengenal tulisan sebagai media penebar kemaslahatan (halah)

Baca entri selengkapnya »

Membuka Keterbukaan (Universitas) dengan Regalitas Web

Perubahan era di dunia sekarang telah beralih dari era industri menuju era informasi. Itulah yang menjadi topik saya dalam pengantar sebuah esai untuk salah satu portfolio untuk web development universitas. Judul aslinya sih adalah “Regalitas Media Online dalam Keterbukaan Perguruan Tinggi”. Namun terkesan ilmiah maka judulnya saya sesuaikan bagi para dedikator sekalian.

Membuat sebuah portfolio web development sendiri bukanlah tujuan utama, namun memaparkan apa yang seharusnya yang dilakukan oleh subjek yang saya tulis di sini adalah hal utama yang saya tendang. Jika harus dikatakan bahwa dunia ini memang memasuki era informasi, maka tidak bisa tidak, tebar kemaslahatan lewat jejaring ini sangat penting. Sebagai mahasiswa lugu, saya pun sebenarnya sedikit sekali mempunyai kapasitas dalam tebar-tebaran itu. Namun untuk mengawalinya, maka inilah bentuk yang hanya bisa saya lakukan untuk memperbesar kapasitas tebar-tebaran itu. Mungkin juga sudah saatnya jurnalisme online harus go public sehingga bukan hanya sekedar tiras yang didapat tapi traffic tinggi yang tentunya punya nilai kemaslahatan.

Nah sekarang langsung pada materi. Perubahan telah membawa suasana baru pada bentuk media massa. Hal ini juga didukung oleh lahirnya teknologi baru yang berbentuk jaringan jagat raya internet. Dari internet inilah lahir alternatif media baru yaitu media online. Baca entri selengkapnya »

Wahai Dosen, Berbicaralah dengan Bahasa Manusia!(versi Ekak)

Memiliki kegemaran baru ngeblog ternyata banyak hal yang dapat saya dapatkan. Mulai dari menjajal sebagai blog surfer sampai harus pelototin komputer seharian. Sebetulnya ada banayk unek-unek yang kalau bisa setiap muncul saya tulis di blog ini. Apa daya energi tak mendukung harus mobile 24 jam nonstop. Namun setidaknya sekarang, saya jadi punya profesi baru sebagai perekam sejarah(halah!). Bagaimana tidak? Kalau tiap jam, menit, detik, saya tak bisa lepas dari gaman kesayangan yaitu notes coklat klasik. Rasanya sungguh disayangkan jika saya melewatkan apa yang terlintas di otak ini tanapa ada yang merekam. Menyadari kemapuan otak saya untuk mengingat sanagt minim. Namun karena ide adalah anugrah dari Tuhan, maka rasanya saya berkewajiban untuk mengabadikannya. Harapannya kelak, andai telah tutup usia namun konsep-konsep tersebut belum terealisasikan, akan ada orang yang menemukan prasasti dokumentasi sejarah saya dan melakukan pembabatan konsep tadi.(halah lagi!)

Sekarang kembali ke topik utama. Waktu membaca majalah Intisari pada bagian Mutiara Kata, saya tertarik dengan kalimat yang berbunyi bahwa lebih tiga perempat hidup manusia digunakan untuk meniru orang lain. Kalimat tersebut langsung menohok hati. Namun setelah melakukan seminar dalam hati dengan berbagai bentuk negoisasi pikiran, akhirnya saya menyimpulkan bahwa pendapat itu mungkin benar. Namun kenapa juga saya harus terjebak dalam dikotomi tersebut. Memang benar jangan pernah anggap enteng diri sendiri. Jadi, tak perlu meniru atau bergantung kepada orang lain.

Baca entri selengkapnya »

Say No To Sugar

Beberapa waktu berkutat pada dunia gizi dan farmakologi, walhasilnya jadi ketagihan buat mendalaminya. Tidak bisa dipungikiri lagi gaya hidup sehat sudah menjadi kebutuhan. Melihat banyak buku kesehatan yang memaparkan berbagai perbedaan pola makan antara Barat dan Timur membuat pikiran saya menyetuhui bahwa say no to sugar adalah salah satu kampanye yang tepat buat membangun personal brandingku. Mulai dari pesan kemaslahatan di QOTD(untuk kalangan sendiri), sudah 3 hari saya menyuarakan kampanye ini. Hitung-hitung selain berbagi pesan kemaslahatan yang seharusnya disampaikan, juga sebagai sarana brand image dari salah satu tagline Boogie Wonderland. Hasilnya, tunggu dan gali lebih jauh update artikel ke depan tentang pesan-pesan tersebut

Baca entri selengkapnya »

Intelegensi Terakhir

Meskipun kaya dalam warna

Bervariasi dalam desain

Berat hanya cerita tragis

Engkau terperangkap dan tertangkap

Dalam lingkarnya, sekarang

Bebaskan dirimu dan

Ambillah Al-Quran sebagai pemandumu

(Sir. Muhammad Iqbal, Javid Nama)

 

Walhasil apakah dengan memiliki tiga kecerdasan IQ, EQ, dan SQ versi barat itu sudah cukupkah? Untuk kesuksesan dunia menurut saya cukup! Tapi, untuk kesuksesan dunia dan akhirat menurut saya belum! Mengapa? Sebab realitasnya orang-orang yang memilikinya , terutama IQ, EQ, dan SQ belum mampu meraih ahsanu taqwim yang terdapat dalam surat At-Tin, yaitu beriman(amanu) dan bearamal shaleh(‘amilun ash-shalin).

Siapa yang meragukan Firaun tidak memiliki SQ tinggi, Baca entri selengkapnya »

Etimologi Kematian

Erich Fromm (1900-1980) mengkritik sindrom kehancuran dalam masyarakat industri modern (The Heart of Man: Its Genius for Good and Evil, 1964). Masyarakat seperti itu memuja-muja kekuatan dan kecepatan.

Organisasi sumber-sumber sosial dan ekonomi mengambil bentuk industri besar, produksi pabrik, dan konsentrasi pekerja di kota. Dalam industrialisme industrialisme yang menguasai kehidupan sehari-hari, manusia diperlakukan seperti sekrup mesin. Dalam masyarakat kebendaan, kemanusiaan mengalami reifikasi. Benda tidak perlu merupakan sesuatu yang hidup.

Dua naluri

Dalam observasinya, Fromm mempertentangkan Baca entri selengkapnya »