Dare to be Dynamic (versi ekak)

knowledge_head_sSelalu ada hikmah dalam setiap kejadian. Itulah romantika yang saya alami. Menjadi manusia lugu yang mempunyai segudang obsesi adalah sebuah branding yang saya tetapkan. Ada banyak peristiwa, kesmpatan yang mungkin patut diorganisasikan menjadi suatu kumpulan database atau saya lebih suka menyebutnya dengan knowledge management. Untuk hal yang satu itu saya memang sangat concern. Meskipun hambatan berupa rutinitas yang cukup menyita energi membuat bebrapa kompetensi tersebut hanya menjadi tumpukan konsep yang berlabuh di otak, buku agenda, bahkan note ponsel. Semua masterpiece atau blueprint yang lahir dari otak ini masih belum regal mendapatkan jalannya untuk terwujud sesuai idealnya.

Di tengah kecemasan jika nanti akan kehilangan ribuan data di brainware, saya mulai menata kembali beberapa ide yang telah berserakan dalam dan terimplementasi secara terpisah-pisah. Saya mencoba menyatukannya kembali dalam sebuah sistem yang sistematis dimana harapannya semua orang dapat menggunakannya atau minimal terispirasi darinya. Saya sendiri bingung karena masih belum punya waktu yang tepat untuk memulai itu. Resiko profesi menghalangi saya untuk cepat membuat knowledge management ala Banyu Biru. Bagaimana tidak, praktis tiap harinya selalu ada saja yang harus saya selesaikan. Walaupun tuntutan itu bukan sebuah kompetensi yang memberikan feedback cukup signifikan, namun yang menjadi orintasi saya adalah investasi jangka panjang. Jika anak yang lain berusaha mengejar nilai nominal baik secara akademis maupun materil, saya justru berbeda. 🙂Saya mungkin berbeda karena terlahir sebagai manusia yang aneh. Saya sadar bahwa saya sepertinya benar-benar aneh. Kalau tidak aneh, ngapain juga saya suka mengamati hal-hal aneh di sekeliling dan menjadi sumber untuk ditulis di blog ini. Kembali ke topik awal, mengapa saya berbeda. Jika melihat beberapa sebaya yang normalnya hidup di dunia remajanya, maka saya bukan termasuk dari situ. Jika melihat anak yang lain berbondong-bondong menyibukkan diri dengan ikut banyak kepanitiaan, maka saya juga bukan salah satu dari situ.jika yang lainnya selalu punya kesempatan untuk hangout di akhir pekan, bahkan saya hanya terhayut dalam konsep-konsep besar(halah 🙂 ). Jika diamat- amati, ternyata pergerakan saya memiliki desain berbeda dengan orang kebanyakan. Dan tak sedikit pun saya merasa minder akan hal itu. Justru ada kebanggaan tersendiri mengapa orang di seusia saya diberi kesempatan seperti ini.

Saat ini memang tidak semua lini dedikasi memang well implemented, tapi saya mencoba strategi bottom up. Yaitu merangkap pelan-pelan dengan gaya think big and start small. Intinya saya mengimplementasikan dulu semua konsep yang saya mampu secara tenaga, batin, waktu, emosi, dan biaya. Setelah itu tinggal berjalan too fast.

Sembari mengurus garda depan Banyu Biru, saya sedang menyusun grand design untuk beberapa kompentensi yang semuanya berhubungan dengan media. Entah kenapa saya akhirnya mengukuhkan tujuan untuk serius bergerak di bidang media. Mungkin pesona  sang kekasih gelap, Meutia Hafid-lah akar semua ini. Ada 2 brand product yang menjadi cita-cita saya. Pertama adalah sebuah media berita online. Sebulan penuh saya menggodok konsep ini. Mulai mencari para dedikator yang sevisi yang dapat diberdayakan dalam media itu nantinya, melakukan bencmarking terhadap situs-situs media, memilih hosting dan sedikit belajar tentang Content management system (CMS) adalah dedikasi jangka pendek saya. Sebagai Editor in Chief sebuah media baru yang wajahnya saja belum bisa dipublikasikan adalah sebuah dilemma. Dilemma dimana secara moral saya dituntut untuk dapat memeloporinya, di lain sisi dimana tidak mungkin semua itu dapat saya lakukan dengan dua kaki saja. Pesona web 2.0 ternyata cukup kuat menarik saya untuk menjadi manusia 2.0 juga. Saya jadi sedikit tergelitik di saat bebarapa teman menawari saya untuk ikut gabung dalam bidang keorganisasian formal, entah sebagi panitia atau apalah. Saya mentah-mentah menolak tawaran itu. Bukan berarti saya pasif. Ingat aktif sejatinya tidak sama dengan produktif. Dedikator pemberdayaan pria, Umi Habibah pun dengan keras mendengungkan statement itu.

Konsep kedua yang sedang saya “jlentrehkan” adalah sebuah weblog yang mengkombinasikan knowledge sharing dengan image branding. Konsepnya sendiri masih dalam tahap penggodokan. Intinya dari konsep yang lahir tersebut saya ingin mencipatkan karya yang selalu berkembang sesuai dengan perubahan jaman. Itulah mengapa media jurnalis adalah obsesi yang menggebu. Inilah menurut saya bidang yang selalu mempertemukan kita akan dunia baru dimana otak dituntut untuk terus berpikir serta mengetahui berbagai wawasan di belahan dunia manapun .

Sedikit mengutip dari seminar spririt of excellent yang dibawakan oleh salah satu dedikator Banyu Biru, Umi habibah di Universitas Ma chung bahwa manusia harus dinamis. Artinya kita harus selalu bergerak kemudian berubah, dan akhirnya menciptakan suatu karya baru yang akan menambah sejarah. Itulah mungkin sedikit pelajaran bahwa di luar aktivitas formalpun semisal kepanitiaan organisasi, kita pun dapat tetap membangun dedikasi yang jauh lebih berdampak.

Saya dapat berbagga karena di luar keterbatasan ini saya dikelilingi oleh para dedikator yang luar biasa. Mereka membangun knowledge sharing tersendiri bagiku. Bahkan setiap kompetensi kita masing-masing dapat dijadikan knowledge management. Saya berterima kasih untuk para dedikator dan aktivis banyu biru bahkan di antra kalian yang merupakan pasukan berani mati, yang mau berdedikasi mengurangi tidurnya demi sebuah komitment. Teruskan dedikasimu dedikator ibu Negara, Mutiara Aisyah untuk menelurkan buku-buku masterpiecemu. Kita telah sepakat bahwa denga dan tanpa mengejar kesempatan, toh kesemapatan itu sendiri yang mendatangi kita. Tanpa masuk sistem pun akhirnya kita bisa mendapat kesempatan yang lebih besar darinya, bahkan lebih ikhlas dan alami. Web, public relation, kesempatan studi banding adalah buktinya.

Teruskan juga dedikasi sang dedikator Umi Habibah yang begitu regal terhadap dunia pendidikan. Teruskan juga dedikasimu sang legenda Tanurato Simatupang untuk memotivasi setiap orang. Jangan berhenti juga dedikasi dedikator pendidikan Rahma Ona yang begitu concern akan hal dasar. Dan tidak ketinggalan juga dedikator Undefined Fairy, Amanda Beta Okatavia untuk menjadi pribadi yang berkarakter dan unik. Kalian para dedikator telah hebat berjalan di rel kebenaran untuk dampak jangka panjang.

Sekali lagi, saat ini tidak semua well-implemented, tapi saya selalu yakin ungkapan Imam Hasan Al Banna, mimpi kita hari ini adalah kenyataan kita esok hari … amiiin. Jadi beban ini tidak akan membunuhku justru semakin meningkatkan adrenalinku, memerahkan darahku, menggandakan kekuatan untuk memambah iman ini pada kebenaran

Dedikasi adalah pelaksanaan kata-kata…. Inilah jalan cinta yang aku pilih 🙂
 
Tetap dalam dedikasi,

Ekak Hardianto

Iklan