Life Goes On (Versi Kampus)

candels2Oooh, life goes on, and it’s only gonna make me strong
Its a fact, once you get on board say goodbye cuz you can’t go back
Oooh, it’s a fight, and I really wanna get it right
Where I’m at, is my life before me, got this feeling that I can’t go back

Sepenggal lirik penyanyi country idola, Leann Rimes di atas mungkin tepat kusenandungkan saat menulis coretan ini. Itulah yang kualami saat beberapa hari ini. Praktis dalam beberapa hari ini saya ditinggali oleh segudang proyek besar yang harus rampung dalam semingu ini. Otak dan otot seakan tak tahu harus berbuat apa. Padahal ada 8 proyek besar berkaitran dengan kuliah dan sisanya sekitar 5 proyek diluar kuliah yang harus mendapat perhatian juga. Jika diibaratkan dengan kuadran yang biasa kita ktahui sejatinya saya sedang mengerjakan antara kuadran  penting mendesak dan di lain sisi kuadran yang penting tak mendesak juga menjadi perhatian. Sejak jumat sebenarnya saya memutuskan untuk mundur sejenak dari rutinitas dan mencoba memanjakan otak dan otot untuk berelaksasi sejenak saat libur idul adha. Praktis pada pada hari libur saya gunakan secara efektif untuk merelaksaskan tubuh  ini yang harapanya setelah itu akan aktif melanjutkan dedikasi kembali.

Padahal dari segudang aktivitas tersebut jika dicermarti tidak semuanya membawa dampak nyata terhadap peningkatan kapasitas kita. Kapasitas personal branding, image branding, dan kesempatan riil lainnya tidak ditentukan oleh kegiatan duduk manis di bangku perkuliahan tanpa dapat menciptakan pengetahuan baru dan menemukan sharing kowledge dai berbagai macam interface. Sudah hapir 2 tahun kuliah terkadang bukannya tambah pinter, tapi tambah sibuk mungkn iya. Tugas-tugas segudang belum lagi tuntutan bersosialiasi. Semua itu tak akan membuah kan hasil jika kita lewati tanpa pemaknaan yang cerdas.

Banyak rekan yang mungkin mengalami hal ini. mulai ari mereka yang menuntut ilmu d daerah nan jauh alias kos, hingga merek ayang punya akses lengkap terhadap informasi. Padahal saat keterima di universitas katanya disuruh belajar. Belajar menimba ilmu, tapi kok banyak yang nggak ngeh ya. Tentang hakekat belajar itu sendiri. Nah katanya disuruh menimba air, eh ilmu. Tapi ilmunya itu apa sih?

Sebenarnya hakekat belajar itu, baik di keluarga, taman bermain, sekolah, di kampus, dan di lembaga pendidikan lainnya adalah untuk meningkatkan KSTAE atau kata orang betawi yang diajarkan pak Romi PekTeSiPeng. Lhah, makanann apaan itu? KSTAE itu bukan lain adalah Knowledge, Skil, Technique, Attitude, Experience alias PekTeSiPeng (Pengetahuan, Keterampilan, Teknik, Sikap, dan Pengalaman). Jika dianalogikan gamabarannya kaya orang belajar naik motor dan belajar di kampus. Nah deskripsinya seperti ini:

Knowledge (Pengetahuan): Kita jadi tahu bahwa di motor ada lampu, stang kemudi,
rem, gas, spion, bel. Kita juga tahu bagaimana cara motor berkerja dan cara menjalankannya. Kalau kita belajar matematika kita kan tahu tentang apa itu fungsi, variabel, dsb. Kita juga diajarin banyak lagi pengetahuan, sistem akuntansi berdasarkan aktifitas, branding strategy, finance amnagement dan kawan2nya yang pokoknya bikin kita pusing tujuh keliling ya itu namanya knowledge. Lho kenapa bikin pusing? Karena biasanya kampus tidak seimbang memberikan pengetahuan dan keterampilan, alias besar teori dari pada tiang, eh praktek maksudnya. 🙂

Skill (Keterampilan): nah setelah kita tahu caranya menghidupkan motor. Agar motor dapat maju maka harus masukan gigi satu dab tekan gas. Jika kecepatan makin tinggi masukkan gigi kedua. Jika ada hambatan di depan ya tinggal injak rem. Kalau mau belok ya tekan lampu sen. Di kampus pun kadang kita disuruh buat tugas mandiri tentang laporan keuangan, neraca, juranal, buk besar itu semua melatih keterampilan. Semakin banyak tugas, normalnya makin terampil. Hanya kalau tugasnya dikerjain dengan nyontek ya makin bego aja jadi mahasiswa :). Harus diusahakan dikerjakan sendiri karena tujuannya ntuk melatih keterampilan kita. Nah IPK itu hanya mengkur mahasiswa di 2 level ini aja. Nah peranan IPK sebenarnya hanya sampai di sini.

Technique (Teknik): dalam perjalanannya, keterampilan aja gak cukup. Untuk menghadapi motor yang dalam kecepatan tinggi agar gak ngepot maka ngremnya harus dari jauh dan pakai rem tangan dan rem kaki bareng. Kalau mau belokpun juga harus ambil ancang-ancang, kecepatan diturunkan, baru belok.  Nah kalau di kampus karena mata kuliah banyak da setiap mata kuliah ada tugas menulis, membuat resume, atau makalah, maka keterampilan analisis lita jadi meningkat. Kita punya teknik untuk dapat bahan makalah yang berbeda dan tokcer daripada teman lain. Kita punya ramuan bagaimana menulis indah sehingga memikat dosen. Walaupun lewat weblog penebar pesona.

Attitude (Sikap): Wah ternyata pengetahuan, keterampilan, teknik saja nggak cukup membuat kita bisa survive di dunia. Kita perlu sikap yang baik dalam mengendarai motor. Lampu merah itu artinya berhenti, jadi tidak boleh nyelonong sajaLampu lalu lintas itu kalau merah berhenti, jangan nyelonong. Kalau nyalip juga jangan dari kiri. Jangan asal ngebut di kampung orang kalau gak mau benjol kepala kita:). Sikap ini jika di kampus ya kalau jadi kauntan jangan gunakan window dressing, kalau buat laporang keuangan jangan di mark up. Nah itu semua bagian dari sikap. Kampus hanya mengajari orang untuk punya pengetahuan. Teknik dan keterampilan tanpa memperhatikan attitude berarti mendidik orang pinter tapi sesat di jalan.

Experience (Pengalaman): nah ini masalah jam terbang. Ini hanya bsa kita dapatkan jika kita mengalami kejadian dan pengalaman. Contohnya karena sering bolak- balik ke dataran tinggi, kita jadi tahu bagaiamana memainkan gigi agar mesin gak rontok meskipun daerah terjal. Gimana juga caranya kalau mau jatuh agar tubuh tidak dapat luka yang tidak parah.Pengalaman ini seperti jam terbang. Pengalaman itu memang mahal karena sering harus ada harga yang harus dibayar. Nah kalau di kampus pengalamannya dari mana? Pengalaman itu tetep ada. Waktu kita magang, kemudian buat sesuatu yang berguna bagi kampus setidaknya akan banyak tawawaran kesempatan untuk bergabung dalam keanggotaan. ICT tim misalnya, bahkan kesempatan untuk bantu pak satpam jaga kampus pun merupakan pengalaman berharga. Membuat jurnal, karya tulis, ikut kompetisi-kompetisi tidak lain supaya punya pengalaman. Jangan salah juga kegiatan tebar pesona di dunia maya lewat blogging ini pun juga dalam rangka membangun pengalaman dari belahan dunia lain.

Makanya untuk para rekan, saudara, ibu, bapak, pak lurah (eh..kok malah salam-salaman), untuk mahasiswa khususnya di manapun anda berada, janagn cepat putus asa dapat IPK jongkok. Itu bukan yang menentukan kapasitasmu. Tapi yang IPKnya jongkok jangan dijadikan alasan untuk tidak mau terus belajar. Nikmati hidup dan buat karya sebanyak-banyaknya. Jangan pedulikan sekitarmu. Kita punya hak sendiri untuk menentukan masa depan.jangan sampai mau didekte oleh keadaan. Kuatkan bergaining power kita. Buat bahwa mereka atau lembaga butuh kita bukan kita yang butuh mereka. Bukakah itu hakekat belajar dan informal leader. Bangun kapasitas kepantasan untuk diberi jauh penting dan beradab ketimbang menjadi orang yang maunya dianggap pintar dengan cari muka di depan umum.

Jalani penuh dengan dedikasi kehidupan ini. Resapi bahwa tugas mandiri yang kita dapatkan adalah tugas untuk kita, bukan untuk dosen kita. Itulah yang membuat kita melakukan segalanya dengan tanpa tendensi atau motivatif tertentu. Kita akan menempuh proses dan melakukan sebaiknya. Kita belajar ya karena ingin meningkatkan kapasitas kita. Jangan bangga dapat IPK kumlot kalau ternyata ilmunya sekedar JIT (Just in Time) karena terhipnotis oleh konsep tekstual yang tetulis di materi cetak. Jadi berbeda dengan kualitas lebih baik daripada bagus namun secara umum sudah banyak. Ingat, dunia telah menjadi datar.

Nikmati pahit dan manis kehidupan kampus. Orang tua kita dan negeri ini menunggu karya kita semua. Gunakan kapasitas knowledge management beserta ilmu tacit-nya.

Tetap dalam dedikasi!

Ekak Hardianto

Iklan