Senandung Kebanggaan di 3,5 yang Spesial

35,freeHari ini banyak sekali yang terpikirkan di benak ini sehingga saya mencoba menuangkannya dalam coretan digital lewat blog ini. sebenarnya sudah lama ada hal yang ingin saya kemukan lewat tulisan, namun entah mengapa selalu saja kesulitan dalam membahasakan yang pas. Saya jadi berpikir apakah ini yang namanya tacit knowledge seperti apa yang selama ini diungkapakan dalam konsep knowledge management atau KM. Suatu pengetahuan yang dapat dirasakan dan diraba namun tidak dapat dilihat secara nyata dalam bentuk dokumentasi, hanya lebih efektif jika dirasakan sebagai pengetahuan dalam benak. Namun apapun ini, saya harus tetap mencoba menyampaikannya.

Pertama yang menjadi sorotan saya adalah tentang KM sendiri. Saya baru sadar bahwa memang benar bahwa istilah knowledge management ini sangat awam. Walaupun sudah muncul sekitar tahun 1995, namun ketika konsep tersebut dilontarkan kepada mereka yang berusia sekitar 20-an kebawah pasti kebingungan. Saya sendiri entah dari mana bisa begitunya kesengsem dengan konsep ini sejak SMA. Hanya baru saja mendapatkan pemicu untuk mengulasnya sejak pak Romi getol memberi inspirasi tentang image branding dan tebar pesona keshalehan lewat dunia maya. Apakah terlalu susah untuk memahami KM? tidak juga tuh. Setelah saya mengetikkan keyword KM dalam mbah google, hasilnya sungguh fantastik. Saya dapat mengetahui banyak wujud dari definisi KM.

Nah yang paling memprihantinkan dan sedikit membuat saya kecewa ketika tadi siang, tanggal 21/1/2009 tepatnya pada saya harus mempresentasikan tema tulisan yang akan saya angkat dalam workshop penulisan di universitas Ma Chung. Saya sungguh terkejut bahwa rekan sekelas saya tidak tahu menahu tentang konsep KM atau knowledge management  itu sendiri. Saya rasa bukan karena presentasi saya yang terlalu lugu (memang gaya bahasa penyajian saya masih terlalu bahasa dewa). Tetapi setidaknya sebagai seorang mahasiswa harusnya tahulah istilah KM itu apa. Padahal mereka yang ada saat itu notabene adalah mahasiswa yang mempunyai IPK tinggi jauh di atas IPK saya.

Lha, saya langsung teringat dengan artikelnya pak romi tentang “dapat apa sih di Universitas”. IPK memang hanya mengantarkan kita sampai pada 2 level saja yaitu level pengetahuan (knowledge)dan level keterampilan (skiil), sementara 3 level selanjutnya yang justru sangat penting tidak tercakup yaitu technique, attitude, experience. Padahal kalau saya mengikuti perkembangan KM, sudah banyak sekali turunannya bahkan seperti yang saya sampaikan pada postingan sebelum ini, ada ELS (expertise location sytem) yang lebih canggih sebagai piranti KM saat ini.

Kalau boleh sedikit berbangga lagi, saya akan katakan bahwa walaupun IPK pas-pasan tapi di lain sisi saya bisa selangkah lebih maju dari mereka yang ber IPK tinggi. Tapi tetap tidak boleh sombong karena sombong temannya setan(haiyah:))

Masalah IPK itu yang menjadi sorotan kedua. Pasalnya saya baru saja menghitung nilai IPK kali ini. hasilnya sungguh aneh bin ajaib. Jika dilihat dari nilai IP semester mulai awal sampai sekarang  tetap sama(sudah 3 semester). Saya akan mnyebutkan angka pastinya 3.59. Kenapa juga malu mengungkapannya, toh sudah saya katakan bahwa IPK hanya berpengaruh pada 2 level saja!

Namun bukan itu masalahnya. Ada hal lain yang sangat saya syukuri. Jika dilihat dari nilai IPK saya, boleh dikatakan bahwa prestasi saya stabil. Olala, ternyata justru bukan itu yang spesial. Ada yang lebih spesial lagi dari pola ini. Untuk mendapatkan IPK itu ternyata saya telah melakukan 2 fokus dedikasi yang sungguh mahakeras. Jika yang lainnya dapat IPK tinggi karena memang fokus dedikasinya pada satu tujuan kuliah saja. Di luar dedikasi kuliah yang tercermin dalam IPK, saya mendapatkan nilai tacit yang lebih. Selama setahun bisa mendapatkan 2 prestasi akademik lewat kompetisi, setahun juga produktivitas tulisan saya meningkat, saya juga dapat pengalaman dipercaya mengolah web universitas Ma Chung. Aktivitas jurnalistik pun juga semakin banyak. terang saja IPK saya segitu, lha wong di saat yang lainnya sibuk belajar untuk bahan ujian, saya malah sibuk membaca literatur lain yang lebih berhubungan dengan KM, web 2.0, maslah sosial politik, dll. Itu semua saya lakukan untuk melengkapi materi tulisan saya ke depan.

Inilah mungkin yang dimaksud kiat sukses dengan cara lugu menurut pak Romi. Ya, bagaiamana kita mendedikasikan pada sesuaru hal penting tapi tidak mendesak justru yang utama. Mungkin bisa saja saya mendapatkan IPK lebih dari sekarang kalau saya hanya fokus pada dedikasi perkuliahan. Tapi di lain sisi saya tidak pernah akan mendapatkan level technique, attitude, dan experience. Saya sangat bersyukur karena dengan keluguan ini ternyata saya masih dapat membuat  personal branding. Alhamdullilah tanpa harus obral omongan di depan umum, setidaknya masa ada yang tidak mengenal saya:). Seperti yang diikatakan pak Husnun, pemimpin redaksi malng Post ketika mengikuti pelatihannya beliau, “stop pintar berbicara, mari menulis karena menulis menunjukkan kualitas pribadi sesungguhnya dari pada isapan jempol”.

Jadi esensinya nilai IPK 3, 5 yang saya dapat itu bukan sekedar nilai 3,5 biasa. Saya sangat bersyukur untuk itu. Dan jika dikatakan stabil, saya akan menolak dengan keras ungkapan itu karena kenyataannya saya bisa melakukan dua fokus dedikasi secara bersamaan. Bahkan saya akan bangga mengatakan pada diri sendiri bahwa nilai tersebut meningkat dengan 3 level selanjutnya. Walaupun efeknya untuk nilai 2 level tidak setinggi dari yang lainnya.

Sungguh bahagia warna kehidupan ini dapat dikelilingi para dedikator yang mempunyai visi sama. Sebut saja Mutiara Aisyah. Ia juga mungkin tidak mendapatkan nilai IPK setinggi temannya yang lain. Tapi di luar itu hasil dediikasinya lebih besar. Dengan nilai IPK rata-rata atas dia bisa menerbitkan buku pelajaran bersama dosennya, bahkan aktif juga dalam mengolah website UMC. Begitu juga Tanuarto Simatupang. Saya yakin dedikasinya di luar yang membagiakan pengetahuannya kepada masyarakat bawah lebih patut diakui daripada sekedar mengakui nilai IPK mereka yang sampai menyentuh 4 namun tidak mempunyai dedikasi.

Oleh karena itu, wahai rekan mahasiswa yang IPK nya belum maksimal, jangan khawatir atau bahkan putus asa. Di atas langit masih ada langit. Kita harus berani menawarkan dedikasi yang berbeda untuk keluar dari adat umum. Akhirnya, bukan cita-cita mendapat gelar semata yang kita ukirkan, namun cita-cita untuk mengabdi dan berbagi inspirasi melalui KM sangat utama. Oleh karena saya terlanjur mengetahui ilmu baru seperti KM, maka saya juga punya kewajiban untuk mensosialisikan KM dalam berbagai forum seperti perkuliahan, tulisan, perbincangan dsb kepada rekan-rekan terdekat. Sedikitpun tidak ada rasa iri kepada mereka yang mendapat nilai IPK tinggi selagi saya mempunyai kapasitas personal branding yang lebih dari mereka. Langkah awal melalui tulisan-tulisan yang dapat memberi bahan berpikir baru bagi dedikator adalah cita-cita saya.

Tetap dalam dedikasi,

Ekak Hardianto

Iklan