Personal Branding di Republik Facebook

facebookSaya tertarik ketika membaca artikel ringan di majalah Marketing berjudul Demokrasi Pasar di Republik Facebook yang ditulis oleh Mas Andre Vincent Wenas. Nah, bukan bermaksud untuk menambah daftar panjang diskusi politi atau bahkan polemik tentang demokrasi yang terjadi di Indonesia, saya justru ingin mengajak dan melihat bagaimana dunia ini memang sudah didatarkan oleh kekuatan-kekuatan konvergensi global. Saya sempat menyinggung masalah ini dalam artikel tentang era dunia datar . Saya rasa bahwa tujuan dan esensi nantinya akan kembali lagi dengan apa yang namanya kebutuhan personal branding atau bahasa kutu kupretnya adalah tebar pesona dan keshalehan lewat duni maya. Untuk hal yang satu ini mudah-mudahan dapat “menggoda” para pribadi, dosen, mahasiswa, atau bahkan sesame kutu kupret untuk mencoba “menjlentrehkan” kenarsistikannya lewat personal branding dunia maya. Apa saja itu? Yuk kita bahas yuk….

Jika ditanya siapa di antara anda yang tidak punya account di Facebook, Friendster, Linkdln, dan lain2nya? Kalau belum pun toh gak masalah dan gak bakal dikejar oleh petugas KPK atau petugas pajak yang belakangan memang sedang gencar kejar target. Konon pengguna Facebook di Indonesia sudah mencapai angka 1 juta. Inilah bentuk republik virtual yang paling demokratis di dunia karena setiap dari kita bebas keluar masuk menentukan apakah mau berpartisipasi (add/confirm) atau keluar (remove/delete) dari “Negara kota” ini.

Kembali lagi saya bahas ketika Thomas L. Fridman(dalam The World is Flat) melansir 10 kecenderungan “perataan dunia”, kita semakin dipertegaskan bahwa ada 3 change driver atau pemicu perubahan yang mendasar yaitu:Teknologi, Ekonomi, dan Sosial. Ketika terjadi intervensi teknologi maka secara efek akan mendorong perubahan struktur ekonomi (ekonomi: oikos-nomos= pengaturan rumah tangga). Hal ini pada gilirannya akan mendorong perubahan gaya hidup (life style) atau perubahan social. Dan bagi para pebisnis, perubahan gaya hidup adalah sebuah perubahan pasar.

Sepuluh tren perataan dunia itu dipicu oleh runtuhnya tembok Berlin yang serentak dengan munculnya teknologi Windows dari Microsoft. Kedua adalah go-public-nya Netscape yang menandai merebaknya internet. Ada pula teknologi workflow software, opensourcing, offshoring, supply chaining, insourcing, in-forming, dan the steroid yaitu merupakan semacam pil doping yang mengakselerasi kesembilan tren menjadi digitalisasi-mobilisasi-personalisasi-virtualisasi. Mereka saling chemistry (bereaksi kimia satu sama lain dan membentuk dunia baru, a whole new world!….

Jika dapat digambarkan dengan sebuah formula, mungkin rumus Einstein dapat dijadikan tolok ukur baru baru dunia marketing baik secara personal branding atau untuk strategi pemasaran perusahaan. Rumus yang dapat menggambarkan betapa dasyatnya dampak kerumunan massa secara virtual yang disaranakan oleh platform web 2.0 adalah : E = wMC^2 yang mengatakan bahwa energy marketing(E) yang dasyat bisa diperoleh dengan memanfaatkan word of mouth (wM) atau rekomendasi pelanggan yang diandakan oleh customer dan community (C^) baik offline maupun online.

Dengan interaksi yang semakin terfasilitasi antara customer secara langsung satu sama lain secara pribadi maka efek yang saling mempengaruhi akan sangat tinggi. Nah, dalam hal ini para pemasar akan tahu bahwa referral (penyerahan) adalah senjata promosi paling ampuh untuk menciptakan opini pelanggan.

Sudah barang tentu ada sebuah manifestasi dalam sebuah era datar Ini. Net telah melepaskan potensi kekuatan pelanggan yang ada dalam jaringan. Pelanggan sendiri adalah nabi-nabi baru, relawan yang siap menbantu. Pasar semakin menjadi manusiawi dengan web 2.0 dimana semua bebas merespon dan menanggapi apa yang ada dalam dunia maya (interaksi 2 arah). Terakhir adalah mengenai manifestasi otentisitas yang merupakan pembeda anda. Hal yang dapat membuat kita tampil beda dengan jati diri sendiri (your brand is cult, creat ideology around it and spread o your believes).

Berhadapan dengan teknologi seakan-akan memunculkan dilema baru. Di satu sisi akan melenyapkan kebudayan termasuk nilai-nilai tradisi etis, namun di sisi lain kita tidak bisa hidup dengan teknologi. Hal ini pun didukung beberapa teori tentang pemenuhan teknologi modern dapat menjamin pemenuhan kebutuhan dasar seluruh masyarakat. Sehingga, mengikuti alur pikiran dalam pertandingan Judo, tak ada lagi selain sepenuhnya masuk dalam teknologi, memelajari dan memanfaatkannya daam berbagai bidang kehidupan demi memecahkan berbagai masalah di depan kita.

Maka, demokrasi pasar di Republik Facebook ini menembus batas ruang (kamar tidur, kafe, kantor, kampus, domestic, internasional) dan waktu. Maka, hai… para manusia yang tertinggal teknologi segera bertobatlah! Segeralah kembali ke jalan sang dedikator.

Tetap dalam demokrasi,

Ekak Hardianto

Iklan